Rabu, 16 Oktober 2013

TRI HITA KARANA DALAM AGAMA HINDU


 Latar Belakang Historis.

Konsep kosmologi TRI HITA KARANA merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi.  Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini.
Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekeliling, dan hubungan dengan ke Tuhanan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan mengekang dari pada segala tindakan berekses buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai. Hubungan antara manusia dengan alam lingkungan perlu terjalin secara harmonis, bilamana keharmonisan tersebut di rusak oleh tangan-tangan jahil, bukan mustahil alam akan murka dan memusuhinya.
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya
untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
1.      Pengertian.
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
1.      Manusia dengan Tuhannya.
2.      Manusia dengan alam lingkungannya.
3.      Manusia dengan sesamanya.
2.      Unsur- unsur Tri Hita Karana.
1.      Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
1.      Sanghyang Jagatkarana.
2.      Bhuana.
3.      Manusia
2.      Unsur- unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi sebagai berikut :
Bagawad Gita (III.10)
Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa wo'stiwistah kamadhuk
Artinya :
Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
3.      Dalam sloka Bhagavad-Gita tersebut ada nampak tiga unsur yang saling beryadnya untuk mendapatkan yaitu terdiri dari:
Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa
Praja = Manusia
3.      Penerapan Tri Hita Karana.
Hakikat mendasar Tri Hita Karana  mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak
1.      Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu sebagai berikut
1.      Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya.
2.      Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya.
3.      Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya.
2.      Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:
1
Parhyangan
Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat
Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga
Di tingkat keluarga berupa pemerajan
atau sanggah
2
Pelemahan
Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali
Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung
Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan
3
Pawongan
Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali
Untuk di desa adat meliputi krama desa adat
Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga
3.       
4.      Nilai Budaya.
Dengan menerapkan Tri Hita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis akan terwujudlah kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya
5.    TRIHITAKARANA DALAM PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA
Trihitakarana telah diaplikasikan di seluruh dunia, dalam berbagai bentuk aktivitas baik oleh perorangan, kelompok, negara bahkan oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa. Tentu saja tidak menggunakan istilah bakunya: Trihitakarana. Tetapi yang penting bahwa manusia sedunia telah menyadari bahwa kebenaran konsep itu telah terbukti.
Demikianlah berbagai contoh dapat dikemukakan, misalnya manusia tak akan hidup tentram bila keyakinan akan adanya kemahakuasaan Tuhan, goyah; manusia juga tidak akan merasa tenteram – damai bila terjadi konflik antar umat manusia baik dalam bentuk peperangan maupun aksi-aksi teror; manusia juga menyadari bahwa apabila ia merusak alam maka ia akan menjadi korban bencana alam.
Berbagai organisasi tingkat regional, nasional, dan internasional telah dibentuk untuk mewujudkan Trihitakarana baik secara keseluruhan maupun sektoral. Kita mengenal adanya WHO, Red Cross, Green Peace, Dewan Keamanan PBB, Pasukan perdamaian PBB, dll.
Trihitakarana dalam aplikasinya oleh penduduk non Hindu-Bali, berdiri sendiri-sendiri, dalam artian tidak berkaitan dengan konsep-konsep lainnya seperti yang disebutkan di atas, yaitu Trimurti, Tri Kahyangan, dan Trikayaparisudha.
Banyak pertanyaan yang bisa timbul karena ketidakterkaitan itu. Ini disebabkan karena setiap unsur Trihitakarana ciptaan Mpu Kuturan terjalin dan terkait satu dengan lain. Misalnya kiprah manusia untuk menjaga kelestarian alam haruslah didasarkan pada rasa bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi, dengan tujuan pencapaian kesejahteraan bagi sesama krama Desa Pakraman.
Dalam aplikasi Trihitakarana secara global, belum tentu unsur-unsurnya berkaitan erat seperti itu. Misalnya kelompok pencinta penyu, melindungi populasi penyu agar tidak punah, tetapi perlu ditanyakan, apakah kegiatannya itu didasari oleh rasa bhakti kepada Tuhan YME, serta untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia ?
6.    TRIHITAKARANA, KAITANNYA DENGAN PANCA MAHABHUTA
Dalam Lontar “Buana Kosa” disebutkan bahwa tubuh manusia diciptakan oleh Yang Maha Esa dari unsur-unsur alam semesta yang disebut panca mahabhuta, yaitu: pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa.
Oleh karena itu pengertian panca mahabhuta ada dua, yakni panca mahabhuta yang berbentuk tubuh manusia disebut buana alit, dan panca mahabhuta yang berbentuk alam semesta disebut buana agung.
Analogi pemikiran Mpu Kuturan adalah: tubuh manusia sebagai stana sanghyang atma (Brahman) adalah sakral dan wajib dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian maka alam semesta juga wajib dijaga dan dipelihara, karena tubuh manusia (buana alit) adalah juga alam semesta (buana agung).
7.    TRIHITAKARANA, KAITANNYA DENGAN “NYEPI”
Nyepi yang dilaksanakan oleh pemeluk Hindu-Bali setiap penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal satu bulan ke-10 menurut kalender Saka-Bali) dalam rangka merayakan tahun baru Saka, adalah salah satu pelaksanaan Trihitakarana.
Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan upacara tawur kasanga (bhuta yadnya pada akhir bulan ke-9). Bhuta Yadnya dalam kaitan ini berarti “korban yang diadakan untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan alam”.
Pada saat Nyepi, umat Hindu-Bali melaksanakan catur berata (empat pantangan), yaitu:
1.      Amati karya (tidak bekerja)
2.      Amati gni (tidak menyalakan api atau membakar sesuatu)
3.      Amati lelungaan (tidak bepergian)
4.      Amati lelanguan (tidak menghibur diri atau bersenang-senang)
Dengan demikian, aplikasi Trihitakarana dalam perayaan Nyepi terlihat dengan jelas, baik dari aspek parhyangan, pawongan, maupun palemahan:
1.      Aspek parhyangan terlihat di saat Nyepi, umat Hindu-Bali melakukan samadi, dan bersembahyang memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi.
2.      Aspek pawongan terlihat adanya kegiatan dharma santih, yakni saling berkunjung dan bermaaf-maafan.
3.      Aspek palemahan terlihat dari tujuan tawur kesanga seperti yang diuraikan di atas, dan dengan adanya catur berata, manusia tidak mengotori udara dengan gas-gas buangan hasil pembakaran atau dikenal dengan istilah emisi gas rumah kaca.
8.    TRIHITAKARANA, RELEVANSINYA PADA ANTISIPASI WORLD CLIMATE CHANGE
Dengan dasar uraian di atas maka aplikasi Trihitakarana yang bertitik sentral pada manusia patutlah dilaksanakan secara serentak mencakup ketiga unsur yang tak terpisahkan, yaitu: Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan.
Upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam (palemahan) tidak mungkin dapat terwujud dengan baik bila ia melupakan bhakti kepada Tuhan (parhyangan), dan tidak menebarkan cinta kasih kepada sesama umat manusia (pawongan).
Oleh karena umat manusia sedunia heterogen dalam artian memeluk berbagai agama dan kepercayaan, maka konsep Trihitakarana dapat saja disesuaikan dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
Kitab suci dari berbagai agama mungkin saja telah menyebutkan hal itu, atau mungkin lebih tegas lagi bahwa: Bila manusia merusak alam atau lingkungan, maka alam-pun akan menghancurkan manusia. Ini adalah hubungan sebab – akibat yang sangat logis, dengan mencari berbagai contoh bencana-bencana alam yang disebabkan karena ulah manusia.
Perubahan iklim dunia (World climate change) bersumber pada perusakan alam oleh teknologi modern manusia. Alam yang dimaksud, adalah alam semesta meliputi daratan, lautan, angkasa, dan atmosfir. Perusakan daratan terjadi karena pertambahan penduduk dunia yang mengakibatkan berkurangnya daerah hijauan hutan dan tanaman.
Pencemaran laut dan sumber air lainnya karena pencemaran limbah industri atau hunian. Pencemaran angkasa karena polusi udara sebagai dampak kemajuan teknologi. Pencemaran atmosfir karena penggunaan atmosfir sebagai daerah tak bertuan, untuk berbagai keperluan komunikasi atau proyek-proyek luar angkasa.
Nampaknya terjadi dua hal pokok yang kontroversial, yaitu tuntutan kemajuan teknologi di satu pihak, dengan kelestarian alam di pihak lain.
9.    SOLUSI
World Climate Change sebagai dampak dari global warming dapat diatasi bila:
1. Ada persepsi yang sama dari negara-negara sedunia, bahwa Trihitakarana, unsur-unsurnya tidak dapat dijalankan secara terpisah, melainkan harus secara bersama-sama dengan dasar keyakinan pokok pada kepercayaan pada Tuhan YME.
Trihitakarana diyakini bertujuan untuk kesejahteraan umat manusia. Sangat ideal bila bangsa-bangsa di dunia dapat menerima Nyepi sebagai salah satu upaya melestarikan alam semesta; bila demikian mungkin UNFCCC/ PBB bisa mencanangkan satu hari dalam setahun, di mana semua penduduk dunia serentak melakukan “A silent day”.
Kami mengusulkan tanggal itu: 23 September, karena pada saat itu siklus peredaran matahari sedang menuju ke garis lintang selatan, atau di Bali dikenal dengan istilah daksinayana.
2. Setiap negara merencanakan batasan-batasan penggunaan sumber-sumber alam untuk kepentingan teknologi – industri
3. Setiap negara merencanakan program pemeliharaan alam – lingkungan dengan efektif dan realistis.
4. UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yakni sebuah badan khusus PBB yang menangani masalah perubahan iklim agar menyusun rumusan yang jelas dan aplicable tentang upaya-upaya yang wajib dilakukan oleh setiap negara di dunia dalam melindungi kelestarian alamnya masing-masing.
PBB tidak memberikan peluang kepada negara mana pun untuk menghindar dari kewajiban melestarikan alam dengan dalih demi pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan upaya lainnya yang disebut sebagai “Emission trading”
5. UNFCCC mengenakan sangsi yang tegas kepada negara yang melanggar konvensi perlindungan kelestarian alam seperti yang sudah disepakati pada butir 4 di atas.